Sumber Gambar : m.republika.co.id
Sejarah membuktikan
bahwa Indonesia
terkenal sebagai penghasil rempah-rempah di dunia, namun beberapa rempah-rempah
yang dijual di pasar lokal ternyata produk impor, salah satunya yaitu lada. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), untuk impor komoditas lada di periode Januari-Februari 2017 yakni 273
ton atau setara dengan nilai 1,57 juta US Dollar. Impor lada terbesar berasal
dari Vietnam sebanyak 252 ton dengan nilai 1,37 juta US Dollar dan sisanya
berasal dari Amerika Serikat, Belanda, dan Korea Selatan. Padahal Indonesia memiliki lima provinsi besar penghasil
komoditas lada yaitu Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan
Timur, dan Sulawesi Selatan.
Lada sebagai rempah lokal seharusnya mampu menjadi komoditas utama yang
diekspor, namun beberapa tahun terakhir justru Indonesia melakukan impor lada. Kurangnya perhatian dari pemerintah
untuk
mempertahankan produk lokal turut mengancam keberadaan petani
dan beberapa pengusaha lokal.
Produksi lada dalam negeri sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan
masyarakatnya. Hanya saja kualitas yang dihasilkan dari petani
lada di Indonesia ternyata belum mampu menarik konsumen yang ada di pasaran.
Kualitas yang rendah dan harga jual lada yang terkadang fluktuatif membuat
beberapa petani lada terpaksa gulung tikar karena tidak mampu mengembalikan
modal apalagi menghasilkan keuntungan.
Pemerintah dan pihak terkait harus mempunyai strategi yang tepat agar mampu
bersaing dengan negara tetangga penghasil lada terbesar di dunia, Vietnam.
Beberapa kebijakan yang diterapkan di Vietnam tampaknya perlu dipelajari oleh Indonesia agar dapat mempertahankan posisinya di dunia sebagai negara
penghasil lada terbesar.
Kebijakan impor lada di Indonesia
hingga saat ini berdampak negatif pada masyarakat Indonesia khususnya petani lada lokal.
Adanya kegiatan impor lada terus menerus secara perlahan mampu mematikan usaha-usaha
lokal petani lada yang dapat membuat petani tersebut kehilangan sumber
penghasilan utama mereka. Kualitas dan harga lada lokal yang tidak mampu
bersaing dengan produk impor harus segera dibenahi oleh pemerintah Indonesia
agar tidak merugikan masyarakat marginal seperti petani lada.
Penulis :
Intan Shafa Maurizka
Editor :
Herta Widyaningsih


Posting Komentar