Teman-teman mu udah banyak yang nikah,
kamu kapan?
Umur mu udah 25 tahun loh, kapan nikah?
Wisuda udah, nikahnya kapan?
Kamu udah kerja, kapan nikah?
Umur mu udah 25 tahun loh, kapan nikah?
Saya yakin, sebagian pembaca yang
sedang membaca tulisan ini, selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut merupakan pertanyaan yang ‘sensitif’ bahkan sangat ‘sensitif’ bagi
pria dan wanita dengan rentang umur 22 tahun hingga 30 tahun. Hal ini juga
terjadi pada diri saya. Saat ini umur saya 22 tahun dan seorang mahasiswa
tingkat akhir. Wisuda saja belum, tapi pertanyaan “kapan nikah?” selalu menghampiri saya dan semakin lama saya merasa bosan
dengan pertanyaan tersebut dan tak bisa dipungkuri, terkadang saya kesal dengan
orang-orang yang suka bertanya seperti itu.
Bagi saya, pernikahan bukanlah syuting
sinetron yang kejar tayang. Bagi saya, pernikahan juga bukan sekedar menjadi
pasangan halal dan bebas ‘bersentuhan’. Bagi saya, pernikahan bukan hanya untuk
menghindari maksiat. Menurut saya, pernikahan merupakan salah satu keputusan
terbesar dalam hidup dan harus dipersiapkan dengan matang.
Menikahlah jika kamu sudah ‘siap’. Siap
secara mental, siap secara fisik, siap secara pemikiran, siap secara
pengetahuan dan siap secara ekonomi.
Menikah tidak harus menunggu mapan tapi
menikah butuh biaya dan menjalani hidup setelah pernikahan butuh ‘extra biaya’.
Menikah bukan hanya menyatukan dua
insan dalam satu ikatan tapi menikah juga menyatukan pemikiran yang berbeda.
Menikah bukan hanya untuk menghindari
maksiat tapi menikah adalah menunaikan kewajiban dan menyempurnakan ibadah.
Menikah tidak hanya sekedar hidup
bersama tapi menikah adalah ‘ruang komitmen’ terbesar dalam hidup.


Posting Komentar