OPINI PART 3 - WANITA BERCADAR, ISLAM DAN TERORIS


                                                 Sumber Gambar  : www.bertuahpos.com
                                                 Editor                  : Herta Widyaningsih

Wanita bercadar itu teroris. Wanita bercadar selalu jadi istri teroris. Wanita bercadar itu Islam radikal. Wanita bercadar itu Islam fanatik. Wanita bercadar itu ikut-ikutan budaya Arab.
Wah, jika semua orang di Indonesia bahkan di dunia ini berpikiran seperti itu, hancurlah modal sosial dalam kehidupan ini. Apabila modal sosial dalam kehidupan bermasyarakat telah hancur, persatuan pun akan berubah menjadi perpecahan. Apabila perpecahan telah terjadi, hidup aman, tentram dan damai hanya menjadi angan semata.
Wanita bercadar bukan teroris. Tidak ada wanita bercadar yang menjadi teroris, yang ada hanya teroris yang menggunakan cadar. Islam bukanlah agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris. Tidak ada dalam kitab suci umat Islam yaitu Al-Qur’an yang mengharuskan umatnya menjadi teroris dan membunuh orang lain. Memang benar dalam Islam dikenal istilah “jihad” tapi jihad yang dimaksud bukanlah jihad yang mengharuskan untuk menjadi teroris.
Saya setuju dengan pernyataan Bapak Nazaruddin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal, “Jihad itu sesungguhnya bukan untuk mematikan seseorang tapi untuk menghidupkan seseorang”.
Saya sangat tidak setuju jika ada stigma bahwa Islam adalah teroris. Saya teringat perkataan teman saya, “Jika ada yang menganggap Islam adalah teroris, sama aja ketika lu menganggap semua laki-laki tidak setia hanya karena lu pernah disakiti atau diselingkuhi. Sangat tidak adil jika lu menganggap semua laki-laki seperti itu. Sama halnya jika ada yang menganggap Islam adalah teroris hanya karena kebetulan yang menjadi teroris itu beragama Islam”. Apabila teroris-teroris tersebut beragama Islam, yang salah bukanlah agamanya tapi yang salah adalah pemahaman orang tersebut.
Tidak selalu istri teroris adalah wanita bercadar, artinya tidak selalu wanita bercadar menjadi istri teroris. Saya sangat tidak setuju jika ada stigma bahwa wanita bercadar selalu menjadi istri teroris. Jika ada yang masih beranggapan seperti ini, lalu bagaimana dengan wanita yang mennggunakan baju kekurangan bahan? Apakah semua wanita seperti itu selalu menjadi istri bandar narkoba? Istri pemabuk? Tentu tidak, maka dari itu jangan beranggapan bahwa wanita bercadar identik dengan istri teroris.
Wanita bercadar bukan Islam radikal karena Islam bukan agama yang radikal dan tidak ada Islam radikal. Islam adalah agama yang cinta damai. Islam adalah agama yang menghormati pemeluk agama lain. Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Jika ada umat Islam yang memiliki pemikiran radikal, yang salah bukanlah agamanya tapi yang salah adalah pemikiran orang tersebut.
Wanita bercadar bukan Islam fanatik karena mentaati Islam bukanlah fanatik. Jika seorang muslim atau muslimah yang mentaati Islam disebut Islam fanatik, lalu bagaimana dengan pemeluk agama lain yang mentaati agamanya? Kristen protestan fanatik? Katolik fanatik? Hindu fanatik? Budha fanatik? Konghucu fanatik?
Wanita bercadar bukan ikut-ikutan budaya Arab. Jika ada stigma bahwa wanita bercadar ikut-ikutan budaya Arab dan lebih baik tinggal di Arab, lalu bagaimana dengan wanita yang menggunakan baju kekurangan bahan? Ikut-ikutan budaya Barat? Lebih baik tinggal saja di negara Barat (Eropa dan Amerika)?
Bercadar bukanlah budaya Arab tapi bercadar adalah salah satu syariat Islam untuk menutup aurat. Lalu kenapa banyak wanita Islam (muslimah) yang tidak bercadar? Memakai cadar dalam Islam hukumnya sunnah, maka dari itu ada muslimah yang menggunakan cadar dan ada yang tidak menggunakan cadar, namun dalam Islam menggunakan jilbab hukumnya wajib.
Saya setuju dengan pernyataan Brigadir Jenderal Polisi Krishna Murti, “Wanita menutup aurat dengan jilbab ataupun bercadar itu adalah pilihan berdasarkan keyakinan masing-masing. Jadi jangan kalian cap mereka dengan label tidak baik. Menutup aurat adalah kewajiban yang diajarkan nabi. Laki-laki yang berjenggot adalah Sunnah Rasul. Jangan kalian label mereka dengan hal-hal yang tidak baik. Laki-laki bercelana di atas mata kaki, bukanlah identik dengan kaum radikal. Banyak pelaku kejahatan bersembunyi di balik pakaian bagus, di balik batik, di balik jas, di balik seragam, di balik perilaku manis”.

2 komentar :

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates