Sumber Gambar : Herta Widyaningsih
Berbicara
tentang integritas, erat kaitannya dengan pemimpin. Seorang pemimpin memiliki
kekuasaan, terutama di lingkungan kepemimpinannya. Membicarakan kekuasaan,
rasanya sulit untuk meninggalkan pembahasan tentang kecurangan, penindasan,
ketidakadilan, pencitraan, semena-mena dan hal-hal memalukan lainnya.
Kekuasaan
yang didukung dengan kewenangan, seringkali menyulap seseorang menjadi pemimpin
yang kalap. Pemimpin kalap sebenarnya banyak berkeliaran di sekitar kita dan
acap kali kita tidak menyadarinya karena para pemimpin tersebut telah menjadi
pemimpin kelas kakap yang selalu berhasil mengelabui ketika ditangkap.
Tingkah laku pemimpin kalap dan kelas kakap tersebut yang akhirnya
membuat masyarakat selalu menghayal dan membayangkan kekuasaan yang berintegritas.
Kekuasaan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, mengedepankan kedisiplinan,
mengutamakan rasa tanggung jawab, mengajarkan keberanian, menegakkan keadilan,
menumbuhkan kepedulian, mengajak untuk bekerja keras, mencontohkan
kesederhanaan dan memberikan akses kemandirian.
Pemerintahan demi pemerintahan selalu saja
menghadirkan kekuasaan yang monoton dan akhirnya hayalan kekuasaan
berintegritas hanya menjadi bayangan semu dan entah kapan berubah menjadi wujud
nyata. Masyarakat tidak tahu pasti, “Apakah
pemimpin tidak menyadari hal ini?” atau “Apakah
sebenarnya pemimpin mengetahui hal ini tapi pura-pura tidak tahu?” Oh,
sungguh miris nasib rakyat negeri ini.
Banyak
generasi muda yang berpotensi dan berbakat, tetapi selalu kalah dengan anak
pejabat yang tak tau cara menjabat apalagi masalah rakyat. Acapkali terdengar
kasus sogok- menyogok demi mendapatkan kekuasaan dan jabatan. Selalu terjadi
manipulasi untuk memenangkan satu sisi. Tak jarang kita dengar, ada pemimpin
yang pamrih ketika membantu rakyat yang merintih.
Lulusan
sarjana yang pulang ke kampung halaman dengan harapan memperoleh pekerjaan,
tapi hanya mendapatkan ketidakadilan. Anak pejabat dan sanak saudara penguasa,
yang tak tahu apa-apa dengan mudahnya mendapatkan posisi tanpa mengikuti proses
seleksi.
Lulusan magister yang pulang dengan tujuan untuk membangun daerah,
namun selalu dijajah oleh penguasa daerah. Apa pun yang dilakukan selalu salah,
seolah-olah memang sudah direncanakan agar selalu kalah.
Entah kenapa setiap kali masyarakat meminta bantuan
kepada pemimpin, selalu saja ada imbalan yang harus diberikan kepada pemimpin.
Padahal sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang pemimpin membantu
menyelesaikan permasalahan rakyatnya tanpa diminta oleh rakyat.
Selalu juga
terjadi, sebuah kemenangan dimanipulasi. Kemenangan yang asli seringkali tak
diakui dan justru menciptakan kemenangan palsu yang tak pernah ditunggu. Calon
pemimpin yang merakyat harus kalah dengan calon pemimpin yang tak bermatabat.
Calon pemimpin yang cerdas harus tunduk dengan calon
pemimpin yang sarkas.
Secuil
kisah di atas hanya potret kecil dari tidak hadirnya kekuasaan berintegritas
dalam kehidupan masyarakat. Pada dasarnya kekuasaan berintegritas muncul dari
kepemimpinan seorang pemimpin yang berintegritas, pemimpin berintegritas lahir
dari pribadi yang juga berintegritas. Oleh karena itu, mulailah membangun integritas dari diri
sendiri. Jangan pikirkan perkara besar untuk memulainya tapi mulailah dari
perkara kecil.
Jangan abaikan hal sekecil apa pun yang melanggar aturan dan keluar
dari batas yang dianjurkan karena sekecil apa pun pelanggaran, dapat terjadi
lagi dan mungkin dalam bentuk pelanggaran yang lebih besar dan bervariasi.
Percayalah pada
kejujuran dan jangan pernah ragu. Sekali saja ragu pada kejujuran, saat itu
juga keinginan untuk berbohong muncul dan sekali saja berbohong, maka akan ada
kebohongan selanjutnya dan mungkin saja menjadi malapetaka.
Jangan pernah membully kekurangan orang lain karena ketika orang
tersebut berhasil, kamu akan tersakiti, mungkin bukan disakiti oleh orang
tersebut tapi disakiti oleh diri sendiri yang tak mampu menjaga tutur kata dan
lupa bahwa diri sendiri juga punya kekurangan.
Sederhanakan pola pikirmu, maka sederhana pula
gaya hidupmu. Tak perlu membeli barang branded, jika hanya membuat diri sakit.
Tak perlu kendaraan mewah, jika hanya membuat diri susah. Tak perlu perawatan
mahal, jika akhirnya menuntun ke jalan yang tak halal.
Jangan
menyerah apalagi patah jika tak ingin dijajah karena bagi penguasa tak pernah
ada kata lelah untuk terus menjarah. Tuhan tak pernah menyia-nyiakan kebaikan
dan perjuangan. Hanya saja, Tuhan ingin kita lebih bersabar dan berpikir
cerdas.
Jangan
takut untuk bertanggung jawab karena itu akan melatih diri menjadi pribadi yang
berkualitas dan berkelas. Hanya orang-orang yang berhati tulus dan berjiwa
pemberani yang mampu bertanggung jawab atas segala perbuatan dan ucapannya.
Jangan pernah
katakan pada diri sendiri dan orang lain “Aku sudah melakukan
ini.....” karena itu hanya akan menumbuhkan rasa pamrih dalam
diri, tapi tanyakan
pada diri sendiri “Apakah benar yang sudah aku lakukan ???”
Sekian
sepenggal kisah kelam kekuasaan di negeri ini yang selalu menghadirkan cerita
miris dan anarkis. Sengaja mengikis harapan para sosialis, namun menjunjung
kapitalis agar tetap eksis. Jangan lelah untuk membudayakan integritas yang
berkelas bukan korupsi yang sarkas. Sangat perlu untuk merawat warisan budaya
Indonesia bukan warisan budaya Belanda. Semoga pemuda dan orang tua tak menutup
mata dan telinga karena sudah putus asa.
Penulis : Herta Widyaningsih


Posting Komentar